-->

Model Team Game Tournament (TGT) Pengertian dan Langkah langkahnya

Setiap guru pasti mempunyai sebuah masalah di dalam kelas, mulai dari rendahnya hasil belajar, hal ini bisa diatasi dengan penggunaan model pembelajaran yang dimana diharapkan akan meningkatkan hasil belajar siswa. salah satu model pembelajaran yang bagus adalah model pembelajaran kooperatif tipe team game turnament.

Pengertian Team Game Turnament (TGT)

Robert E Slavin (2010:13) mengungkapkan bahwa model pembelajaran TGT adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang mula-mula dikembangkan oleh David de vries dan Keets Edwards. Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran pertama dari John Hopkins. Model pembelajaran ini menggunakan pelajaran yang disampaikan guru dan tim kerja yang sama seperti STAD, akan tetapi menggantikan kuis dengan turnamen mingguan, dimana siswa memainkan games akademik dengan anggota tim yang lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya.

Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status. Tipe ini melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya, mengandung unsur permainan yang bisa menggairahkan semangat belajar dan mengandung reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama,persaingan sehat dan keterlibatan belajar.

Baca Juga: Model Pembelajaran kooperatif Tipe STAD
                   Macam Macam Formasi Bangku Kelas Agar Suasana Tidak Monoton 

Langkah Langkah Model Team Game Tournament (TGT)

Model pembelajaran TGT bisa dilakukan dengan berbagai variasi game. Menurut Silberman(2010) prosedur dari Teams Game Tournament (TGT) adalah :
  1. Mengelompokkan siswa menjadi sejumlah tim yang beranggotakan 2 hingga 8 siswa, setiap kelompoknya memiliki jumlah anggota yang sama.
  2. Memberikan materi kepada tim untuk dipelajari bersama. Membuat beberapa pertanyaan yang menguji pemahaman dan atau pengingatan akan materi pelajaran.
  3. Format pertanyaan hendaknya mudah untuk penilaian sendiri, misalnya pilihan ganda,mengisi titik-titik, benar/salah,atau definisi istilah.
  4. Memberikan sebagian pertanyaan kepada siswa. Sebutlah ini sebagai “ronde satu”, setiap siswa harus menjawab pertanyaan secara perorangan.
  5. Setelah pertanyaan diajukan, sediakan jawabannya dan siswa diminta untuk menghitung jumlah jawaban yang benar. Selanjutnya siswa diminta untuk menyatukan skor mereka dengan tiap anggota tim mereka untuk mendapatkan skor tim. Umumkan skor dari tiap tim.
  6. Selanjutnya siswa diminta belajar lagi untuk “ronde kedua”. Kemudian diajukan petanyaan atau tes lagi sebagai bagian dari ronde kedua tersebut. Selanjutnya siswa diminta untuk menggabungkan skor mereka dan menggabungkan skor mereka di ronde pertama.
  7. Lamanya metode ini bisa bervariasi, dan ronde yang digunakan bisa sebanyak mungkin. Pastikan untuk memberi kesempatan pada tim untuk menjalani sesi belajar antar masing-masing ronde. dan meminta informasi untuk menambah kemampuan kognitifnya.
Sedangkan menurut Robert E Slavin(2005:166-167) Ada lima komponen utama dalam TGT yang akan diterapkan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
  1. Penyajian kelas. Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini ,siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang diberikan guru,karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.
  2. Kelompok (team). Kelompok biasanya terdiri atas empat sampai dengan lima orang siswa.Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
  3. Game. Game terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapatkan skor.
  4. Tournament. Untuk memulai turnamen masing-masing peserta mengambil nomor undian. Siswa yang mendapatkan nomor terbesar sebagai reader 1, terbesar kedua sebagai chalennger 1, terbesar ketiga sebagai chalenger 2, terbesar keempat sebagai chalenger 3. Dan kalau jumlah peserta dalam kelompok itu lima orang maka yang mendapatkan nomor terendah sebagai reader 2. Reader 1 tugasnya membaca soal dan menjawab soal pada kesempatan yang pertama. Chalenger 1 tugasnya menjawab soal yang dibacakan oleh reader 1 apabila menurut chalenger 1 jawaban reader 1 salah. Chalenger 2 tugasnya adalah menjawab soal yang dibacakan oleh reader 1 tadi apabila jawaban reader 1 dan chalenger 1 menurut chalenger 2 salah. Chalenger 3 tugasnya adalah menjawab soal yang dibacakan oleh reader 1 apabila jawaban reader1, chalenger 1, chalenger 2 menurut chalenger 3 salah. Reader 2 tugasnya adalah membacakan kunci jawaban .Permainan dilanjutkan pada soal nomor dua. Posisi peserta berubah searah jarum jam. Yang tadi menjadi chalenger 1 sekarang menjadi reader1, chalenger 2 menjadi chalenger 1, chalenger3 menjadi chalenger 2, reader 2 menjadi chalenger 3 dan reader 1 menjadi reader 2. Hal itu terus dilakukan sebanyak jumlah soal yang disediakan guru.
  5. Penghargaan Kelompok. Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing- masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan.
Slavian, Tabel penghargaan kelompok TGT
Tabel penghargaan kelompok TGT
Dari beberapa cara model pembelajaran TGT di atas, maka dapat dijelaskan bahwa dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ada beberapa tahapan yang perlu ditempuh, yaitu :
1. Mengajar (teach) Mempersentasekan atau menyajikan materi, menyampaikan tujuan, tugas, atau kegiatan yang harus dilakukan siswa, dan memberikan motivasi.
2. Belajar Kelompok (team study)
Siswa bekerja dalam kelompok yang terdiri atas 5 sampai 6 orang. Setelah guru menginformasikan materi, dan tujuan pembelajaran kemuian kelompok berdiskusi. Dalam kelompok terjadi diskusi untuk memecahkan masalah bersama, saling memberikan jawaban dan mengoreksi jika ada anggota kelompok yang salah dalam menjawab.
3. Permainan (game tournament) Permainan diikuti oleh anggota kelompok dari masing – masing kelompok yang berbeda. Tujuan dari permainan ini adalah untuk mengetahui apakah semua anggota kelompok telah menguasai materi.
4. Penghargaan kelompok (team recognition) Pemberian penghargaan (rewards) berdasarkan pada rerata poin yang diperoleh oleh kelompok dari permainan.
penempatan pada meja tournamen
penempatan pada meja tournamen
Kelebihan, Kekurangan Dan Solusi Model Pembelajaran Team Game Tournament (TGT)

Keunggulan dari model TGT

  1. belajar menjadi lebih menyenangkan,
  2. adanya kompetisi yang dapat memacu semangat belajar siswa,
  3. memberikan strategi dan peraturan dalam kompetisi,
  4. adanya kepercayaan diri dalam menyampaikan ide sehingga siswa lebih aktif pada saat persaingan dalam turnamen,
  5. materi mudah diterima oleh siswa dengan adanya diskusi yang menyebabkan siswa berani mengemukakan pendapat dan lebih memotivasi siswa untuk mempelajari materi.

Kelemahan dari model TGT

  1. Memerlukan alokasi waktu yang relative lebih banyak, terutama kalau belum terbiasa
  2. Membutuhkan persiapan yang lebih terprogram dan sistematik 
  3. Kalau peserta didik belum terbiasa dan menguasai pembelajaran kooperatif, pencapaian hasil belajar tidak akan maksimal
  4. Masalah yang terkait dengan peserta didik antara lain: terdapat peserta didik yang tidak bisa menyesuaikan diri, berperilaku menyimpang, terlalu gaduh, tidak hadir ataupun tidak berlatih secara efektif
  5. Beban bagi pengajar yang lebih besar dan harus teliti dalam penilaian
Setelah mengetahui kelemahan model pembelajaran TGT, maka supaya pelaksanaan pembelajaran terlaksana dengan baik maka ada beberapa cara yang digunakan untuk meminimalisir kelemahan tersebut yaitu:

  1. Guru merencaanakan pelaksanaan pembelajaran dengan mengatur waktu dengan baik sesuai kebutuhan dan pada saat pelaksanaan guru harus memperhatikan batasan waktu sehingga waktu tidak melebihi bata
  2. Game dan tournament dibuat tidak terlalu sulit atau mudah dimengerti siswa supaya siswa cepat faham
  3. Guru lebih memperhatikan siswa dan memperingatkan siswa agar tetap serius tetapi tetap santai dan mengikuti pelajaran dengan senang dan dapat menyesuaikan diri.
  4. Guru memotivasi siswa supaya siswa dapat belajar dengan efektif, tidak gaduh dan mengikuti pelajaran dengan baik.
  5. Guru lebih teliti lagi karena harus mengevaluasi hasil pelaksanaan game and tournament dan juga tes individu.
Salah satu teori belajar mengajar menegaskan bahwa sesulit apapun materi pelajaran apabila dipelajari dalam suasana yang menyenangkan, pelajaran tersebut akan mudah dipahami. Sebaliknya, walaupun materi yang dipelajari tidak terlampau sulit utuk dipelajari, namun apabila suasana belajar membosankan, tidak menarik apalagi siswa belajar dibawah tekanan, maka pelajaran akan sulit dipahami.
Kesimpulan
Model TGT ini lebih menyenangkan siswa jika dibanding dengan model pembelajaran lainnya yang biasa diaplikasikan kedalam berbagai mata pelajaran dan berbagai tingkatan kelas. Penggunaan model ini diharapkan membuat siswa lebih temotivasi untuk meningkatkan hasil belajar. Maka dari itu, tujuan pembelajaran ini akan lebih tercapai apabila menggunakan model pembelajaran TGT.
__
Materi ini dapat ditemukan di buku:
Agus  Suprijono. 2009.   Cooperative  Learning  Teori  dan  Aplikasi   PAIKEM. Yogyakarta:Pustaka Pelajar 
Anita Lie. 2002. Cooperative Learning, Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas.Jakarta:PT. Grasindo

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser